Hay guys,, kali ini saya akan share sebuah resensi buku yang menceritakan kisah seorang lelaki yang memiliki cinta sejati kepada 1 orang perempuan, dan kekuatan cinta ini mampu membuat lelaki ini bertahan untuk selalu setia walau sang wanita tak pernah membalas cintanya tersebut. Disamping itu buku ini juga menceritakan sebagaimana besar kasih sayang seorang ayah... penasaran? makanya wajib dibaca... :D
RESENSI NOVEL AYAH
Judul : Memaknai Hidup Dengan Perjuangan
§
Identitas
buku :
1.
Judul
buku : Ayah
2.
Nama
pengarang : Andrea Hirata
3.
Penerbit : Bentang Pustaka
4.
Tahun
terbit : 2015
5.
Jenis
Buku : Fiksi
6.
Jumlah
halaman : 396 halaman
7.
Ukuran
buku : 20,5 cm x 13 cm
8.
ISBN : 978-602-291-102-9
 |
| buku ayah |
Ayah adalah salah satu dari sekian novel yang telah ditulis oleh Andrea
Hirata, sama dengan novel-novel sebelumnya yang mengambil setting di daerah Sumatera yang masih kental dengan budaya
Melayunya. Novelnya kali ini menceritakan seorang lelaki bernama Sabari bin
Insyafi selaku tokoh utamanya yang bertempat tinggal di daerah Belantik,
Belitong. Novel ini mengulas kehidupan Sabari dari
ia bersekolah sampai ia meninggal. Berbeda dengan kebanyakan novel yang beredar
di pasar luar lainnya, Andrea disini berusaha menciptakan seorang tokoh yang
sangat sabar nan lugu sesuai dengan nama yang diberikannya yaitu Sabari. Dari
keluguan dan kesabaran inilah sang tokoh utama akan mengantarkan kita ke dalam
sebuah imajinasi tentang kehidupan seorang lelaki lugu dan penyabar yang penuh
dengan perjuangan maupun kegigihannya dalam menjalani kehidupan semenjak
menginjakkan kaki di bangku SMA hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Di awal cerita kita akan diajak membahas seseorang yang digambarkan sedang
mengalami tekanan bhatin karena orang yang dicintainya tega meninggalkannya,
seseorang yang oleh teman-temannya selalu diingatkan untuk melupakan Lena,
perempuan yang menyebabkan dia selalu memegang pensil dan selalu duduk termangu
merenungi nasibnya. Senasib dengan seekor kucing yang juga ditinggal minggat oleh istrinya. Namun pada bab selanjutanya kita
akan terbawa ke dalam sebuah imajinasi baru, dimana ada seorang anak yang bernama Amiru yang sangat mengagumi ayahnya
yang bernama Amirza yang merupakan seorang pekerja buruh pabrik sandal jepit yang
tinggal di Kampung Nira, sebuah kampung unik yang seluruh penduduknya
mengidolakan Lady Diana dan bahkan sangat berharap agar Lady
Diana bersedia mengunjungi kampung miskin ini. Sang ayah hanya memiliki harta
berupa sebuah radio usang yang tingkat kejernihan suaranya sangat
mengkhawatirkan, sehingga disini diulas bagaimana kegigihan Sang ayah untuk
membuat radionya terdengar jernih kembali dan dengan kegigihannya itu terbukti
radionya bisa terdengar jernih kembali dengan bantuan lilitan kawat antena yang
berada di kandang bebek. Inilah yang membuat Sang anak merasa termotivasi dan
sangat mengagumi kegigihan ayahnya. Namun, suatu hari keluarga ini ditimpa
sebuah musibah dimana ibu Amiru menderita sebuah penyakit dan harus berobat.
Keluarga miskin ini pun dilanda kebingungan untuk mendapatkan uang hingga
akhirnya radio kesayangan pun dijual. Tapi diceritakan disini bahwa Amiru berhasil menebus kembali radio tersebut dengan uang hasil keringatnya
sendiri, karena betapa ayahnya menyayangi radio tersebut hingga membuat Amiru
bertekad untuk mendapatkan radio itu kembali, alhasil segala upaya yang dilakukannya
pun membuahkan hasil, Amiru mendapatkan radio itu kembali.
Akhirnya kita diajak untuk melihat cerita tokoh utama kita
yaitu Sabari. Sabari yang telah jatuh hati pada seorang gadis yang mencontek semua jawaban ujiannya pada saat
seleksi masuk SMA Negeri, Sabari tak bisa berkata sepatah katapun waktu itu. Ia
telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis yang memiliki mata
seindah bulan purnama kedua belas.
Masa SMA pun dimulai, Sabari akhirnya
tambah tergila-gila dengan gadis yang ia temui saat seleksi masuk SMA Negeri, yang sekarang kita kenal dengan nama Marlena. Namun sayang semua tak seindah harapan, Marlena gadis pujaan hati Sabari ternyata
membalas semua cinta itu dengan kebencian. Akan tetapi dengan bermodalkan seribu puisi
cinta yang tak ada habis-habisnya Sabari terus
bersikukuh untuk mendapatkan hati Marlena. Namun sayang seribu sayang,
kecantikan Marlena ternyata membuat
ia berpacaran
dengan seorang berandal sekolah akan tetapi tentu saja Sabari yang penyabar ini
tetap mempertahankan cinta sucinya walau tak sedikitpun Marlena lirik.
Semua usaha bodoh yang
dilakukan Sabari untuk mendapatkan cinta Marlena malah menimbulkan suatu
motivasi mendalam bagi seorang laki-laki
yang bernama Izmi. Izmi adalah seorang anak orang kaya yang tiba-tiba menjadi
menderita karena ayahnya melakukan korupsi. Akhirnya ia harus bekerja keras dan ini mengakibatkan rapot Izmi selalu berwarna merah tapi semenjak ia melihat
kegigihan Sabari Izmi pun termotivasi sehingga berimbas pada rapotnya yang
sekarang malah kekurangan warna merah.
Usai menamatkan
pendidikannya, sabari memilih untuk bekerja
menjadi kuli. Sabari memilih profesi ini berharap agar ia mampu melupakan
bayangan Marlena yang setiap saat masih saja menghantuinya, padahal 3 tahun
telah berlalu. Namun segala usaha kerasnya untuk melupakan Marlena membuahkan
hasil yang pahit, tetap saja bayangan mata indah Marlena membayangi kehidupan
Sabari hingga akhirnya Sabari membuat sebuah keputusan untuk bekerja di
perusahaan batako milik Markoni yang merupakan ayah Marlena. Disinilah Sabari kembali menemukan kebahagiaan hidupnya, mampu melihat Marlena setiap hari. Hingga tibalah saat Markoni
mengetahui bahwa Sabari menyukai anak bungsunya, dia sangatlah murka tetapi Markoni tak sampai hati mengusir Sang pekerja teladan ini dan dia membiarkan Sabari tetap bekerja di perusahaannya.
Musibah, itulah yang Sabari
terka ketika mendengar suara barang pecah belah berterbangan ribut dirumah majikannya. Dia mengetahui bahwa bertengkar merupakan
suatu rutinitas si pemilik rumah tapi kali ini sangat berbeda, pertengkaran
kali ini diwarnai dengan adanya barang-barang yang pecah dan bentakan-bentakan
yang teramat keras. Selang beberapa hari akhirnya dia mengetahui sebab muasabab
pecahnya barang-barang tersebut yaitu buntingnya anak majikannya yang tak lain
dan tak bukan adalah Marlena. Betapa senang hati Sabari karena
akhirnya dia bisa mengambil kesempatan ini untuk menikahi Marlena dengan sangat
ikhlas dan pasrah dia menyerahkan dirinya sendiri untuk dinikahkan dengan
Marlena. Tapi seperti yang kita ketahui Marlena ini sangat membenci Sabari tapi
ditengah keterdesakan akhirnya dia menyetujui solusi ini, yaitu menikah dengan
sabari.
Pernikahan pun berlangsung
secara sederhana karena banyak tamu undangan yang tidak datang. Mereka tidak
mempercai Marlena sang gadis bermata seperti bulan purnama itu menikah dengan
Sabari yang bertelingakan cantelan wajan, semua undanga merasa sangat
bingung tak terkecuali sahabat-sahabat
Sabari. Tapi dengan segala sukacita sabari dan segala kedukaan Marlena mereka
pun akhirnya resmi menjadi sepasang suami isteri.
Biduk rumah tangga pun
terjalin tapi malangnya Marlena tidak mau tinggal serumah dengan Sabari, ia
memilih untuk tinggal dirumah orang tuanya, Sabari dengan keluguan dan
kesabarannya itu pun tidak mempermasalahkan semua itu. Hingga akhirnya seorang
bayi laki-laki tampan pun hadir ke dunia ini dan semenjak itu pun Marlena
tinggal bersama Sabari. Putranya ini ia
beri nama Zorro. Dibesarkannya Zorro dengan cerita-cerita dan puisi. Zorro amat
lekat dengan Sabari yang selain ayah juga merangkap menjadi seorang ibu, karena Lena sering
kabur dari rumah dan tak tahu di mana rimbanya.
Kenyataannya, Lena tidak pernah bahagia dengan bahtera rumah tangga
itu. Ia akhirnya tidak tahan dengan rumah tangga yang ia bangun tanpa cinta ini.
Hingga akhirnya ia menggugat cerai Sabari. Setelah Marlena menggugat
cerai, Marlena pun pergi dengan lelaki lain. Sabari tetap sabar hingga suatu
ketika Lena mengambil Zorro dari hidupnya, Sabari
bagai orang gila yang merasa hampa. Dihabiskannya waktu untuk melamun di
beranda rumah bersama kucing jantannya yang bernasib sama dengannya.
Zorro
yang masih berusia tiga tahun saat dipisahkan dari Sabari terus merengek karena
biasanya sebelum tidur Sabari selalu berpuisi atau bercerita macam-macam untuk
Zorro. Karena frustasi, Marlena akhirnya memberi kemeja Sabari kepada Si kecil
Zorro, dan hanya dengan memeluk kemeja ayahnya itulah ia dapat tertidur
lelap. Zorro yang masih kecil mengalami kehidupan yang tak semestinya
dirasakan anak seumurannya. Hal ini terjadi karena Marlena selalu saja
kawin-cerai kawin-cerai. Beruntunglah, Zorro adalah anak yang cerdas dan
memahami kondisi ibundanya. Ia tidak pernah mengeluh dan selalu menghibur hati
ibunya,
Sementara
di Belitong, sedih melihat sahabatnya yang makin gila, Tamat dan Ukun, sahabat
SMA Sabari akhirnya memutuskan untuk mencari di mana Marlena dan Zorro berada.
Pulau Sumatera telah dikelilingi mereka, segala upaya dikerahkan. Hingga akhirnya, Ukun dan Tamat berhasil menemukan
Lena dan Zorro. Lena sudah menikah lagi dengan lelaki bernama Amirza. Zorro pun
dinamai ulang dengan nama Amiru. Akhirnya Ukun dan Tamat membawa Zorro kembali
ke Belantik untuk menemui ayahanda tercintanya. Zorro alias Amiru segera
mengenali aroma tubuh ayahnya yang dulu
setiap malam sebelum tidur selalu dipeluknya.
Kehidupan
terus berjalan hingga ajal mulai mengintai Sabari, dan akhirnya
Sabari pun menghembuskan napas terakhirnya dan di batu nisan Sabari tertulis,
“Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu”. Amiru-lah yang mengukir puisi itu
sesuai permintaan Sabari sebelum wafat. Dan, setahun berikutnya, Marlena yang
dalam keadaan sekarat berpesan pada Amiru anaknya untuk menguburkan jasadnya di
sebelah makam Sabari dan ia juga berpesan untuk menulis “Purnama kedua belas”
di nisannya. Purnama kedua belas adalah panggilan kesayangan Sabari pada
Marlena sejak pertama kali mereka bertemu. Amiru
menurutinya, diukirnya tulisan itu pada nisan ibunya. Sebelumnya, saat ayahnya masih hidup, Amiru bertanya pada
ayahnya, apakah ayahnya masih mencintai ibunya? Sabari menjawab, “Ingat, Boi,
dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua
aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu.”
Mungkin pada awalnya novel ini
kurang dapat untuk dipahami karena alur ceritanya. Pada bagian depan novel Ayah
ini, terdapat 2 cerita yang tokohnya benar-benar berbeda. Apabila kita
membacanya hingga belakang, cerita di novel ini menyatu dan kisah yang
disambung itu mungkin bisa membuat kita tertawa karena tidak disangka-sangka
ternyata si ini adalah ayah si itu dan sebagainya. Saya pun membaca buku ini
agak sering membolak-balik karena saya bingung dengan isi novelnya.
Disamping itu, novel Ayah ini menyajikan cerita yang sangat mengharukan, perjuangan
seorang lelaki polos dan lugu dalam mengejar cintanya yang pada akhirnya
mebuahkan hasil, disamping itu disajikan juga pemandangan kisah seorang ayah
yang sangat mencintai anak yang bahkan bukan merupakan anaknya sendiri, Sabari
disini memberikan kita pesan secara tersirat bahwa seharusnya kita harus
memperjuangkan cinta sejati kita dan selalu setia pada
cinta kita. Walau pada akhirnya yang kita cintai malah membenci kita
namun cinta tak terbatas pada hal seperti itu. Cinta adalah ketika kita bahagia
bisa melihat orang yang kita cintai juga berbahagia. Begitupun menjadi seorang
ayah, anak tidak terbatas hanya anak sedarah tapi juga diluar itu. Kita
seharusnya bisa belajar dari kisah Sabari untuk selalu berusaha tanpa pantang mundur dalam menggapai apa
yang kita inginkan, entah itu kebahagiaan, mimpi-mimpi kita maupun cinta.
Melihat novel
ini, kita bisa menengok ke salah satu novel yang juga ditulis oleh Andrea
Hirata yaitu Edensor, novel ini
mengandung unsur keberanian mimpi, kekuatan cinta yang mnegubah hidup,
pencarian cinta dan diri sendiri dengan penaklukan-penaklukan yang gagah
berani, alur yang susah ditebak sehingga akan membuat pembaca merasa
penasaran dan ingin membaca lagi dan lagi, Disamping itu penyampaiannya pun
mudah dimengerti sehingga berbeda dengan novel Ayah yang sekiranya lebih susah
untuk dimengerti.
Seperti halnya manusia, suatu karya juga akan
mengandung kekurangannya masing-masing seperti novel Edensor ini sangat
membosankan pada awal-awal cerita yang mengakibatkan pembaca akan mudah untuk
beralih dalam membaca novel ini, selain itu judul yang disajikan pun terkesan
melenceng karena kita hanya akan tahu makna dari judul Edensor ini di
akhir-akhir cerita.
Kedua novel ini telah memuat kisah-kisah yang
sangat menginspirasi bagi kita semua, sehingga apapun kekurangannya dapat
tertutupi dengan baik oleh kelebihan yang disajikan. Sehingga buku semacam ini
pantas dibaca oleh semua kalangan, muda, tua, pejabat, pelajar , dan segala
jenis pekerjaan lainnya. Jadi jangan lupa untuk turut serta mengapresiasi
karya-karya anak bangsa.
So, guys itulah resensi yang bisa saya share, semoga buku ini bisa menjadi pilihan teman-teman semua ;)